
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,”
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.“Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut.
Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu,”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“umatku, umatku, umatku”
************************************************************
firnass : Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
Setiap kali membaca dan menghayati detik-detik menjelang sakaratul maut Rasulullah SWT ini pasti ada butiran air yang jatuh dari mata.. Rindu Rasulullah …. RINDU… RINDU… Rindu kami padamu ya Rasul…Rindu tiada terkira..
Tertarik dengan artikel di Majalah Anis ' Bagaimana untuk dicintai untuk dapat mencintai?' Berdoalah kepadaNya kerana Dia yang menghadirkan rasa cinta ke dalam hati. Mohonlah dipermudakan agar kekasihNya, Rasulullah SAW juga mencintai kita sebagai umatnya. Barulah menjadi mudah untuk kita mencintai kekasihNya. Mengasihi baginda dengan menegakkan sunnahnya. Contohilah kehidupan para sahabat Nabi SAW. Mereka mengasihi Baginda melebihi kasih kepada diri sendiri.
Rasa cinta mereka dibuktikan dalam jihad dan pengorbanan. Hasilnya para sahabat dapat merasi kemanisan iman.
Seorang sahabat Rasulullah SAW, bernama Abdullah bin Umar berkata: “Aku tidak pernah berasa kenyang sejak aku berpisah dengan Rasulullah SAW.”
Bagaimana hati tergamak membiarkan perjuangannya ditinggalkan? Perjuangan itulah yang membuat Abdullah bin Umar melupakan kelaparan. Umat Islam kini, adakah mereka rela berlapar seperti sahabat mereka di Palestin yang kebuluran?
Jika kita bertemu Rasulullah SAW nanti, pasti bekas perjuangan di tubuh badan ini menjadi saksi bahawa kita adalah umatnya yang menagih rindu mengharap balasan untuk bersamanya di syurga tertinggi.
Adakah kita layak bersama Rasulullah SAW nanti? Persoalan itu hanya dapat dijawab dengan perbuatan.
Perjuangan sebenar sememangnya boleh menyemarakkan rindu kepada Rasulullah SAW.
Mudah-mudahan kita mendapatkan syafaatnya, dikumpulkan dengan orang yang kita cintai dan rindui beserta Rasulullah SAW di syurga nanti. Amin ya rabbal alamin.
Salam Maulidur Rasul
1 comment:
Allahumma Shalli 'Ala Muhammad
Post a Comment